Tags

, ,

Pada minggu ke 2 bulan Maret 2009 lalu, tiba-tiba saya dan ketiga teman satu kostan saya berniat pergi ke Pantai Nampu Wonogiri. Bukan Cuma kami berempat yang notabene para perempuan, tapi bersama pacar-pacar kami yang sekaligus menjadi tour guide dan supir. Akhirnya kami berdelapan jadi juga pergi ke pantai Nampu dengan segala persiapan untuk camping pada tanggal 4 April 2009 setelah satu kali delay pada tangggal 28 Maret karena beberapa alasan personal.

Kami berangkat hari Sabtu pukul 07.30 melewati bekonang sekalian menyewa 2 buah tenda. Perjalanan berhenti sampai Wonogiri kota untuk sarapan soto daging sapi, kemudian dilanjutkan ke beberapa kota kecil yang entah apa namanya, melewati waduk gajah mungkur, kemudian ke kecamatan Paranggupito. Disitulah awal dari perjalanan yang lebih mendebarkan karena tinggal beberapa mil untuk sampai ke “surga dunia”.

Akhirnya kami memutuskan untuk ke Pantai Sembukan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai Nampu –tujuan utama kami-. Dari situ perjalanan mulai menyempit (tetapi cukup untuk lewat satu mobil) dan berkelok-kelok, kami mulai tidak sabar karena banyak sekali bukit yang harus kami lewati. Kami mengira-ngira sambil berharap bukit di depan kami adalah bukit yang terakhir menuju pantai, tapi ternyata ada puluhan bukit-bukit kecil dengan jalan yang naik turun. Tetapi untungnya jalanan lumayan halus, tidak seperti dugaan kami yang off road.

Kami akhirnya sampai ke pantai sembukan, pantai kecil dengan hamparan pasir putih dan dua tebing serta dikelilingi batu karang sehingga tidak memungkinkan kami untuk bermain air sepuasnya. Katanya pantai itu biasa dilakukan untuk kegiatan ritual adat setempat, namun suasananya tetap menyenangkan. Setelah sedikit bermain air dan foto-foto, kami langsung beranjak meninggalkan pantai walau berat, tetapi panggilan alam di dalam perut mengalahkan segalanya.
Setelah kami shalat dzuhur kemudian kami makan siang dan membekal makanan untuk malam hari –konon di Nampu susah untuk mencari makan pada malam hari-. Untuk pergi ke Nampu kami masih harus melewati banyak bukit.

Perasaan deg-degan yang kami rasakan saat pertama terulang lagi. Berharap bukit di depan adalah bukit terakhir menuju pantai. Sampai pada akhirnya aku dan pertnerku melihat genangan air yang luas berwarna biru sedikit tertutup bukit. Hati semakin berdebar-debar, and….. voila….. subhanallah…hamparan pantai yang ditaburi pasir putih disekelilingnya, birunya air laut dari kejauhan menyapu pandangan kami. Sangat rupawan….
Kami langsung mendirikan tenda di bukit sebelah, dan melihat pantai kecil yang terdapat mata air di pinggirannya. Kemudian kami berdelapan bermain air pantai sepuasnya dan sedikit membilas dengan air dari mata air di dekatnya. Hari menjelang petang, sungguh menyesal kami tidak mendapatkan Sun set view karena cuaca sedikit mendung. Kemudian 4 teman kami mandi di tempat bilas pinggir pantai, dan karena sudah terlalu gelap 4 yang lain (termasuk

saya, red) memutuskan untuk tidak mandi. Dan ajaibnya badan dan rambut kami sama sekali tidak lengket. Hhm…
Malam hari cuaca tidak terlalu bagus, langit gelap dan ombak berderu sangat kencang dikarenakan pasang dan ditambah gerimis yang tak kunjung reda. Setelah shalat magrib dan isya, kami menikmati makan malam di dalam tenda, kemudian tidur.
Pagi harinya lagi-lagi kami tidak mendapatkan sunrise karena matahari ditutupi awan pagi yang mendung, jadi kami masing-masing memuaskan mata kami dengan melihat, dan mengamati sekeliling pantai. Ada yang menaiki tebing, menjelajah bukit sebelah, mencari sungai untuk keperluan MCK, serta ada pula yang nongkrong di bibir bukit

menikmati pemandangan yang sungguh tidak cukup diungkapkan dengan kata-kata.
Beberapa saat kemudian para “ibu-ibu” yang sudah niat mengambil foto di pantai utama yang panjang, berias seminimal mungkin karena belum mandi sambil mengolesi sunblock untuk kulit kami. Kemudian kami berkemas-kemas untuk pindah ke pantai sebelah. Pemandangan di pantai itu lebih, lebih, dan lebih menakjubkan dari bayangan kami. Sangat cantik. Langsung kami mencari spot yang oke, dan mengambil foto dari segala sudut. Kemudian kami tidak sekedar bermain air, tapi berenang dalam arti sebenarnya-karena semua badan masuk ke dalam air-. Sangat menyenangkan, ditemani beberapa anak kecil setempat dengan kulit gelap yang berenang dengan lincah layaknya kecebong. Mereka

sangat ramah.
Matahari semakin terik, dan kami memutuskan untuk mensudahi acara mengasyikkan itu dan mandi di tempat bilas. Wah ternyata kami semua menjadi lebih hitam. Untung kami sudah mengolesi sunblock sebelumnya, jadi tidak gosong. Sayangnya aku lupa mengoleskan di bagian pundak yang sedikit terbuka, alhasil punggungku jadi gosong, merah dan hitam.
Pada perjalanan pulang, aku yakin semuanya pasti kelelahan, tapi semua itu sangat impas dengan apa yang kami dapatkan. It’s worth it!! Hm… perjalanan yang menyenangkan.. sepertinya kami harus merencanakan perjalanan selanjutnya. Dan di otakku ada satu kata yang tersirat: Lombok! I dont know how, but i belive there is a will there’s

away..
Cheers,
wholzy

pantai nampu

cimg4624

pantai nampu yang panjang

Advertisements