Tags

, ,

Kemarin siang, saya terburu-buru ke penjahit baju, berharap baju yang saya “permak” dapat selesai lebih cepat, kemudian pulang ke kost dengan sedikit tergesa-gesa pula, selain itu karena faktor terpengaruh para pengendara sepeda motor di Jakarta yang gesit dan sedikit ugal-ugalan (saya baru pulang dari Jakarta selama seminggu, red). Namun ternyata kesialan menghampiri saya. Saat saya berusaha menyeberang jalan dengan cara serong, ada seorang ibu dan anaknya yang sekitar 6 tahun menyeberang jalan dari arah berlawanan. Saat kami hampir berdekatan, sang ibu sempat menghentikan langkahnya namun sang anak berlari menyelonong tanpa lihat kanan kiri dan akhirnya anak tersebut jatuh karna pipinya mengenai stang motor saya, reflek anak tersebut menangis dan saya memarkir motor saya di tepian. Spontan orang sekitar menghampiri kami. Saya sedikit bingung karena itu pertama kali dalam hidup saya di dalam posisi “menabrak”(walau anak kecil tersebut yang nyelonong). Ibu yang bersangkutan berkata “gak apa-apa kok, udah gak papa. Makanya kamu jangan suka nyelonong kalo nyebrang”, serunya ke anaknya. Tetapi justru orang-orang sekitar yang heboh

dan menunjukkan muka gusar pada saya.
Karena saya sadar, saya dalam posisi “bersalah” (dalam suatu kecelakaan, kendaraan yang lebih besar adalah pihak yang bersalah), saya bersedia membawa anak tersebut ke Dokter. Tetapi karena saya tidak membawa uang satu peserpun dan kartu identitas, akhirnya orang sekitar menyuruh ibu tersebut ikut bersama saya ke kostan guna mengambil uang.
Sesampainya di dokter, kami sekitar 15 menit menunggu, setelah dokter yang bersangkutan keluar (yang ternyata habis bangun tidur), melihat anak tersebut yang berbaring. Kebetulan anak itu hanya memar di rahang kiri, dan lecet di mata kaki. Sang ibu tiba-tiba mendapat telpon yang menanyakan keadaan sang anak, dan ibu menceritakan kejadian secara singkat. Kemudian dokter tersebut mengambil obat-obatan, entah obat apa itu. Tetapi dari ucapannya “udah gak apa-apa, setelah minum obat itu pasti bisa tidur nyenyak” terdengar seperti obat penghilang rasa sakit. Yang saya kagetkan adalah setelah saya tanya “berapa, Dok?”, dokter tersebut menjawab dengan entengnya “50.000 mbak!”.

36-gopek-lagi1

What??????? Saya kaget bukan kepalang. Cuma obat seperti itu harganya mahal bukan main. Kemudian dengan berat hati saya membayar dan mengantar mereka ke tempat semula.
Sesampainya di kost, saya menceritakan kejadian tadi kepada teman-teman saya. Dan mereka berkata”ya memang begitu lan. Dokter tu, kalo udah tau kecelakaan pasti harganya dinaikkin. Soalnya kan kamu panik, butuh obat sesegera mungkin, jadi naikin harga semaunya. Padahal kalo berobat biasa ya gak semahal itu”. Saya ingat, beberapa bulan yang lalu saya berobat di sebuah tempat praktek dokter di tempat lain karena demam, flu dan batuk kemudian mendapat obat yang banyak sekali jenisnya. Dan saya hanya membayar Rp.23.000,-. Di tempat praktek dokter tersebut sangat ramai, sampai-sampai saya baru diperiksa pada pukul 21.20 padahal mengantri dari pukul 16.00, dan itu sangat berlawanan dengan keadaan tempat praktek si dokter tadi yang sangat sepi.
Saya jadi berpikir tarnyata tidak hanya orang yang jadi korban kecelakaan, orang yang menabrak juga sialnya berlipat-lipat. Selain panik (karena pasti mereka tidak sengaja), takut di urus oleh polisi yang pasti berbelit-belit dan mengeluarkan biaya, mendapati keadaan kendaraan yang juga rusak, dihakimi massa, dan diperlakukan tidak adil oleh (bahkan) seorang dokter. Hm…mulai sekarang saya harus lebih berhati-hati, jangan sampai menjadi korban dan yang mencelakai.. ^_^

Advertisements